Tubuhku saat itu penuh dengan keringat dan bercampur dengan keringat Pak Rojak. Bokeb tinggiku 158cm dan rambut sebahu. Lalu ia sarankan aku untuk mengambil seorang sopir, untuk mengantarku.Akupun setuju, sebab aku memang trauma sejak saat itu menyetir sendiri. Kalau dilihat, gubuknya seperti rumah dukun dan didindingnya ada semacam tulang2 dan bau menyan. Disitu aku mengambil tempat agak kesudut dan suasananya amat romantis. Tanpa ada kata2 ia genggam jemariku saat itu, aku merasa tenang seperti gadis remaja dengan pasangannya. Hatiku slalu terbayang wajah Pak Rojak. Beberapa hari kemudian, datanglah sopir yang dicari Mas Hendra itu. Akupun dilahirkan dalam lingkungan yang memegang teguh agama dan adat jawa. Jumat sore saat ia menjemputku, entah kenapa aku minta Pak Rojak untuk mampir dulu




















