Sabar dan cuek saja. Mbak Narsih hanya melihat aku sibuk di dapur tanpa komentar. Bokeb Sayur sudah masak. Aku harus pulang, menyiapkan meja makan. Dia lalu merebagkan kepalanya di meja makan. Berarti Mbak Narsih sudah makan. Mungkin dia jengkel karena Mas Pras nggak pulang-pulang. Aku harus membereskan semua pekerjaan di rumah, baru aku berani keluar untuk maen. Dan. kenapa setiap aku remas ujung susunya, Mbak Narsih memejamkan matanya. Aku lupa diri. Terbayang lagi tubuh Mbak Narsih yang seksi dan putih mulus. Kalo pagi aku suka menghilang di rumah Oom Yanto tetangga depan rumah untuk baca Koran atau majalah. Ada rasa ngeri deket-deket orang marah. Kedua tangan, jari, dan perutnya. Maafin Mbak, ya Kun.




















