Lalu ia kembali memijat pangkal pahaku. Bokep India Tangannya halus. Tidak perlu diantar. Pintu salon kubuka.“Selamat siang Mas,” kata seorang penjaga salon, “Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?”“Massage, boleh.” ujarku sekenanya.Aku dibimbing ke sebuah ruangan. Aku masih termangu. Ah masa bodo. Mungkin sapu tangan ini saja suatu kealpaan. Turun tidak, turun tidak, aku hitung kancing.Dari atas: Turun. Tapi tidak apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke ‘alam’ lain.Dulu aku paling anti masuk salon. Dan kubuka celana pantai. Badannya berbalik lalu melangkah. Payudara itu dari jarak yang cukup dekat jelas membayang.Cukuplah kalau tanganku menyergapnya. Sopir menepikan kendaraan persis di depan sebuah salon.Aku perhatikan ia sejak bangkit hingga turun.




















