Anti sebenarnya masih mencintaiku, namun posisinya serba salah, ia tidak mungkin menjadi anak durhaka yang tidak mematuhi kemauan orang tuanya. Bokep Jilbab/Hijab Wajat saja sih, selain penampilanku yang berantakan dan status ekonomu yang suram, tidak ada satu wanita pun yang tertarim padaku. “Kalau yang biasa cuma dua puluh lima ribu, yang bagus tiga puluh lima ribu…”, jawabku. “Nanti Anti byr deh biaya ojeknya…”, sambungnya.Pikir-pikir boleh juga, lagian kampusnya satu arah ke kios kami. “Mas sibuk ya?” tanya ranti sambil memberikan uang padaku. Kudorong tubuhnya jatuh, lalu ku tindih. “Diingat tuh, tar bangkrut kita kalau dihutangin terus…”, kata Syamsul menyindirku.




















