Di hari pertamaku masuk kuliah di salah satu perguruan tinggi di Semarang, tidak ada yang aku kenal satupun, sehingga aku seperti orang nyasar, bingung celingak-celinguk kesana kemari. Bokeb Belum sempat aku rampung menikmati pemandangan ini, tiba-tiba ia melompat ke arahku dan mendorongku telentang di kasur, dengan cepat dia mencium bibirku. Sampai akhirnya ia bertanya begini, “Wan, kalau kamu punya istri suka yang buah dadanya besar atau sedeng-sedeng saja?”. Sekarang gantian ia yang telentang di kasur. “sstt…, hh…, sstt…”, mulutnya berdesis seperti ular. “Siapa takut…”, jawabku tidak mau kalah. Kali ini aku yang mengambil alih “kekuasannya” gantian kudorong tapi dia malah tengkurap, melihat pantatnya yang putih mulus. Gita terus memandangiku. Dengan semangat aku mulai mendorong ke depan, menarik, mendorong, menarik




















