“Pacar lagi?”
“Ya, dia …” suaranya makin lirih. Dia perlahan-lahan duduk tegak di tepi tempat tidur, mata hitamnya bersinar seperti bara. Vidio Porno “Nih…. ” aku bertanya. Aku tinggal deketan situ, gak jauh dari Mart. “Aku ga ingin uang palsu sialan dari Om!” sambil melempar lembaran-2 itu ke arahku. Aku merasa dekat dengannya, dan mudah-mudahan itu tidak berakhir seperti ini. Aku tahu itu tidak akan pernah terjadi, tapi Kuharap aku bisa melihatnya lagi. Viagra apa Ciallis?”
“Dulcolax,” aku berbohong. Sebuah kesedihan terlihat di wajahnya yang cantik, dan tampak seperti akan menangis. “Kau baik-baik saja?”
Seperti yang kulihat, kelopak matanya berkedip, sekali … Dua kali … Saat ia mulai fokus, kehilangan bayangan berkaca-kacanya.












