Kalau kini aku berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karena peluhnya yang membasahi leher, pasti karena aku terlalu terbuai lamunan. Bokeb Cukuplah kalau tanganku menyergapnya. Kerjaan hari ini sudah kugarap semalam. Sudahlah. Ah.., wanita yang lehernya berkeringat itu begitu besar mengubah keberanianku.“Buka bajunya, celananya juga,” ujar wanita tadi manja menggoda, “Nih pake celana ini..!”Aku disodorkan celana pantai tapi lebih pendek lagi. Aku terpejam menahan air mani yang sudah di ujung. Aku jelas mendengarnya dari sini.Kembali ruangan sepi. Toh ia sudah seperti pasrah berada di dekapan kakiku.Aku harus, harus, harus..! Tetapi, bayangan itu terganggu. Esoknya, dari rumah kuitung-itung waktu. Toh, si setengah baya itu pasti sudah lebih dulu tiba di salonnya.




















